Cari Artikel

Loading

Indonesia Bisa Implementasikan Teknologi Futuristik SmartGrid di 2014

Pernahkah kita membayangkan, mulai dari perangkat elektronik di rumah, hingga infrastruktur publik seperti jalan tol, kereta, hingga listrik dikelola secara komputerisasi oleh mesin dan terkoneksi secara real time di jaringan telepon kita?

Dulu, semua itu mungkin hanya pernah kita lihat di film-film futuristik. Namun sekarang, teknologi masa depan ini sudah di depan mata. Di negara-negara maju seperti Eropa, teknologi yang dikenal dengan nama SmartGrid alias 'jaringan cerdas' ini sudah mulai diimplementasikan.


"Di Indonesia, SmartGrid kami perkirakan sudah bisa diimplementasikan mulai 2014 mendatang. Sesuai dengan RPJM (rencana pembangunan) pemerintah yang menargetkan jaringan broadband meng-cover 30% populasi penduduk," kata Senior Manager Marketing and Technology Business Development, Alcatel-Lucent (ALU) Indonesia, Willy Sabry dalam media briefing di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Di tahun 2014 itu pula, teknologi baru seperti Long Term Evolution (LTE) untuk seluler generasi keempat atau 4G mulai beroperasi di Indonesia.

Nah, teknologi ini yang nantinya diharapkan ALU menjadi salah satu jaringan untuk menopang SmartGrid dalam mempersatukan infrastruktur di industri telekomunikasi dengan infrastruktur layanan masyarakat lainnya, seperti listrik, transportasi, yang dikelola secara terpusat melalui akses broadband berbasis protokol internet (IP).

"Untuk bisa mewujudkan masa depan dengan teknologi SmartGrid, kebijakan pemerintah harus mendukung. Juga diperlukan sinergi antara pemain di industri dan telekomunikasi untuk co-invest dan operation maintenance," jelas Willy.

Menurut Rudolph Mazza, APAC Marketing Director, Alcatel-Lucent Strategic Industries, investasi yang diperlukan untuk membangun infrastruktur jaringan berbasis SmartGrid berkisar US$ 1,5 juta hingga US$ 10 juta per lingkup area.

"Investasinya tergantung, apakah mulai membangun dari awal, atau memigrasikan sistim yang sudah ada," kata dia.

Investasi awal yang diperlukan memang terlihat sangat besar, namun Mazza menjanjikan benefit yang signifikan begitu sistim ini diimplementasikan.

"Selain memudahkan pola hidup kita, menurut hitung-hitungan kami cost yang bisa dihemat sedikitnya mencapai 40%," tandas dia.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar